Kaya dengan Budidaya Kelapa Kopyor




Kaya dengan Budidaya Kelapa Kopyor

Kelapa Kopyor bisa disebut dengan “emas hijau” lantaran harga kelapa kopyor bisa lebih mahal 10 kali lipat dari kelapa biasa. Kelapa kopyor memang dari segi fisik tidak berbeda dengan kelapa biasa, tapi secara genetik menyimpang karena daging buah yang terlepas dari tempurungnya. Lalu, apa saja keunggulan dari “emas hijau” ini?
Dilansir dari Koran Jakarta, suatu hari, Guru Besar Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), Sodarsono, bersama timnya melakukan observasi penelitian ke sebuah sentra kelapa kopyor di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Dia mengamati kehidupan masyarakat yang menanam kelapa kopyor di pelataran rumah.
Kebetulan, Sodarsono bertemu dengan sebuah keluarga yang menanam tiga pohon kelapa kopyor. Bagi keluarga tersebut, buah kelapa kopyor yang bergrombol di tandannya bak “emas hijau” yang bisa dipetik dan dijual kapan saja untuk menambal kebutuhan sehari-hari.
Perumpamaan “emas hijau” itu lantaran harga kelapa kopyor bisa lebih mahal dari 10 kali lipat dari kelapa biasa. Kalau pengepul hanya menghargai kelapa biasa antara 2.000–4.000 rupiah per butir, nilai kelapa kopyor bisa mencapai 20.000 rupiah per butir.
Tak pelak, tutur Sodarsono, jika keluarga itu bisa mengandalkan biaya anaknya wara-wiri kuliah dari Pati ke Yogyakarta setiap satu pekan dengan menjual kelapa kopyor kepada pengepul.
Kemudian, pengepul mengumpulkan kelapa kopyor itu hingga mencapai bilangan tertentu agar tetap mendapat untung bila didistribuskan ke Jakarta, tepatnya untuk dijual lagi ke restoran, pabrik es krim, dan pedagang buah.
Pengepul membandrol kelapa kopyor untuk konsumennya di Jakarta antara 30.000–35.000 rupiah per butir. Selanjutnya, sebagian besar kelapa kopyor itu ada yang diolah lebih lanjut oleh konsumen menjadi minuman segar. Ada pula yang memanfaatkan kelapa kopyor untuk campuran pembuatan roti, kembang gula, es krim, koktail, dan permen.
Setelah menjadi produk jadi, nilai tambah kelapa kopyor menjadi berpilat ganda lagi. Sekadar informasi, di bilangan Mayestik, Jakarta, pedagang minuman menjual menu es kelapa kopyor 20.000 per gelas. Padahal, untuk satu buah kelapa kopyor bisa untuk enam hingga 10 gelas. Jadi, semakin kelapa kopyor berisi, maka bisa untuk beberapa gelas minuman es kelapa kopyor.
Plasma Nutfah
Menyimak cerita keluarga tersebut, Sodarsono terinspirasi merintis kegiatan penelitian kelapa kopyor dengan menggandeng Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman (Balit) Palma sejak 2010. IPB dan Balit Palma telah mengembangkan berbagai teknologi budi daya, pengembangan perlindungan tanaman, dan penanganan pascapanen yang terkait dengan kelapa kopyor.
Wujud dari komitmen itu di antaranya didirikannya Pusat Konservasi Plasma Nutfah Kelapa Kopyor Indonesia di Jonggol, Bogor, dan Manado, Sulawesi Utara.
“Saat ini telah ditanam sekitar 3 hektare kelapa kopyor dari berbagai daerah di Indonesia di Jonggol pada akhir 2013. Sepanjang tahun 2014 ini akan dikembangkan lebih lanjut hingga mencapai luasan 5 hektare–6 hektare,” ujar Sodarsono, yang menyandang gelar doktor bidang Agronomi North Carolina State University, Amerika Serikat, ditemui di Jakarta, awal pekan lalu.
Pendirian pusat konservasi tersebut bertujuan untuk mencegah punahnya kelapa unggul asli Indonesia. Sekadar informasi, dari variasi kelapa kopyor di Indonesia, ada tiga varietas yang secara resmi telah dilepas Kementerian Pertanian sebagai varietas lokal. Varietas itu antara lain kelapa genjah cokelat kopyor, kelapa genjah hijau kopyor, dan kelapa genjah kuning kopyor.
 

“Kelapa kopyor tersebut dari segi fisik tidak berbeda dengan kelapa biasa, tapi secara genetik boleh dibilang menyimpang. Penyimpangan itu terjadi pada daging buah yang terlepas dari tempurungnya,” jelas peneliti Balit Palma, Ismail Maskromo, kepada Koran Jakarta, di Jakarta, pekan lalu.
Kelapa kopyor tersebut secara umum dikelompokkan dalam tiga tipe, yaitu genjah, hibrida, dan dalam. Karakteristik tipe genjah memunyai ukuran batang pendek berdiameter relatif kecil.
Pohon tipe ini akan berbuah sekitar umur lima tahunan dengan produksi 12–15 buah per tandan. Persentase buah kopyor sekitar 25–50 persen per tandan (4–6 buah kopyor per tandan).
Sementara itu, kelapa kopyor tipe hibrida punya batang yang relatif lebih besar diameternya dibandingkan kelapa genjah.
Pohon kelapa ini akan berbuah pertama sekitar umur 5–6 tahunan dengan produksi buah antara 10–12 buah per tandan. Persentase buah kopyor sekitar 25–50 persen per tandan (4–5 buah kopyor per tandan).
 Adapun ciri-ciri kelapa kopyor tipe dalam memiliki ukuran batang relatif besar dan kuat.  
Pohon tipe ini akan berbuah pertama sekitar umur delapan tahunan dengan produksi buah antara 5–8 buah per tandan. Persentase buah kopyor sekitar 25 persen per tandan (1–2 buah kopyor per tandan).
 Dari beberapa tipe dan varietas kelapa kopyor yang ada, IPB dan Balit Palma sedang mendaftarkan kelapa dalam kopyor puan kalianda.
“Kelapa kopyor puan kalianda telah diakui dan terdaftar sebagai varietas lokal kelapa kopyor tipe dalam,” ujar Sodarsono.
Pemuliaan Tanaman
Untuk mengembangkan varietas kelapa kopyor yang sudah ada, IPB dan Balit Palma juga terus melakukan pemuliaan tanaman melalui kultur embrio dan true-to-type (T3).
Sodarsono menjelaskan buah kelapa kopyor secara alami sebenarnya tidak dapat ditumbuhkan menjadi bibit karena abnormalitas daging buahnya. Namun, buah kopyor tetap memunyai embrio sigotik yang dapat berkembang menjadi bibit.
Tahapan pemuliaan melalui kultur embrio diawali dengan mengisolasi embrio sigotik di medium steril berisi nutrisi untuk menumbuhkannya hingga berkecambah dan menjadi plantlet (bibit kecil dalam botol). Plantlet yang telah cukup besar, dipindahkan ke media tanah hingga menjadi bibit siap tanam.
Harga bibit kelapa kopyor hasil kultur jaringan tersebut untuk kelapa kopyor tipe dalam berkisar antara 400 ribu–500 ribu rupiah, sedangkan kelapa kopyor tipe genjah berkisar antara 1 juta rupiah per bibit.
“Teknik ini bisa menghasilkan buah kopyor 100 persen per tandan, tetapi tidak bisa menghasilkan buah untuk bibit,” klaim Sodarsono.
Berbeda dengan kultur embrio, tahapan pemuliaan kelapa kopyor T3 diawali dengan menyilangkan secara terkontrol antara induk jantan yang dihasilkan IPB dan Balit Palma, dengan iduk betina kelapa kopyor milik petani. Hasil persialangan dipanen pada umur 11 bulan dan dikecambahkan hingga menjadi bibit. Pada saat bibit berumur 6–8 bulan maka siap ditanam di lapangan.
 “Berbeda dengan bibit hasil kultur embrio, bibit T3 menghasilkan buah kopyor yang berkisar antara 25–50 persen per tandan,” jelas Sodarsono. Sebagai ilustrasi, dengan menanam 10 bibit T3, 10 bibit itu akan berkembang menjadi 10 pohon kelapa kopyor. Saat ini, harga bibit kelapa kopyor T3 untuk kelapa kopyor tipe dalam dan kelapa kopyor tipe genjah berkisar antara 100 ribu rupiah per bibit.
Teknik kultur embrio dan T3 tersebut berbeda dengan proses pembibitan yang dilakukan petani selama ini. Sodarsono menguraikan pembibitan alami ini dilakukan dengan memilih pohon kelapa kopyor yang telah terbukti selalu menghasilkan buah kopyor (25–50 persen per tandan).
 Selanjutnya, pohon kelapa kopyor terpilih dipanen pada umur 11 bulan dan dikecambahkan menjadi bibit. Setelah bibit berumur 6–8 bulan maka sudah siap ditanam di lapangan. Saat ini, harga bibit kelapa kopyor tipe dalam dan kelapa kopyor tipe genjah berkisar antar a 50 ribu rupiah per bibit.
 “Kelapa tersebut bisa menghasilkan buah kopyor 25–100 persen per tandan, dan buah yang tidak kopyor dapat dijadikan sebagai bibit kelapa kopyor alami,” tutup Sodarsono.
Dari teknik pembibitan yang telah dikembangkan tersebut, mereka yang tertarik berbisnis kelapa kopyor bisa memilih keunggulan dan kekurangan varietas dan jenisnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inilah kandungan nutrisi mengagumkan dari sebutir kelapa kopyor

Kelapa Kopyor :Produk Unggulan Kabupaten Pati

Potensi ekspor dari olahan daging kelapa kopyor