Sabtu, 24 November 2018

Cara Mudah Menjadi Kaya Dengan Budidaya Kelapa Kopyor



Cepat Kaya dengan Budidaya Kelapa Kopyor


Kelapa Kopyor bisa disebut dengan “emas hijau” lantaran harga kelapa kopyor bisa lebih mahal 10 kali lipat dari kelapa biasa. Kelapa kopyor memang dari segi fisik tidak berbeda dengan kelapa biasa, tapi secara genetik menyimpang karena daging buah yang terlepas dari tempurungnya. Lalu, apa saja keunggulan dari “emas hijau” ini?

Kelapa Kopyor Pati Sejahterakan Petani

Dilansir dari Koran Jakarta, suatu hari, Guru Besar Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), Sodarsono, bersama timnya melakukan observasi penelitian ke sebuah sentra kelapa kopyor di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Dia mengamati kehidupan masyarakat yang menanam kelapa kopyor di pelataran rumah.
Kebetulan, Sodarsono bertemu dengan sebuah keluarga yang menanam tiga pohon kelapa kopyor. Bagi keluarga tersebut, buah kelapa kopyor yang bergrombol di tandannya bak “emas hijau” yang bisa dipetik dan dijual kapan saja untuk menambal kebutuhan sehari-hari.

Harga 10 Kali Lipat Dari Kelapa Biasa

Perumpamaan “emas hijau” itu lantaran harga kelapa kopyor bisa lebih mahal dari 10 kali lipat dari kelapa biasa. Kalau pengepul hanya menghargai kelapa biasa antara 3.000–4.000 rupiah per butir, nilai kelapa kopyor bisa mencapai 50.000 rupiah per butir.
Tak pelak, tutur Sodarsono, jika keluarga itu bisa mengandalkan biaya anaknya wara-wiri kuliah dari Pati ke Yogyakarta setiap satu pekan dengan menjual kelapa kopyor kepada pengepul.
Kemudian, pengepul mengumpulkan kelapa kopyor itu hingga mencapai bilangan tertentu agar tetap mendapat untung bila didistribuskan ke Jakarta, tepatnya untuk dijual lagi ke restoran, pabrik es krim, dan pedagang buah.
Pengepul membandrol kelapa kopyor untuk konsumennya di Jakarta antara 40.000–50.000 rupiah per butir. Selanjutnya, sebagian besar kelapa kopyor itu ada yang diolah lebih lanjut oleh konsumen menjadi minuman segar. Ada pula yang memanfaatkan kelapa kopyor untuk campuran pembuatan roti, kembang gula, es krim, koktail, dan permen.
Setelah menjadi produk jadi, nilai tambah kelapa kopyor menjadi berpilat ganda lagi. Sekadar informasi, di bilangan Mayestik, Jakarta, pedagang minuman menjual menu es kelapa kopyor 20.000 per gelas. Padahal, untuk satu buah kelapa kopyor bisa untuk enam hingga 10 gelas. Jadi, semakin kelapa kopyor berisi, maka bisa untuk beberapa gelas minuman es kelapa kopyor.
Plasma Nutfah
Menyimak cerita keluarga tersebut, Sodarsono terinspirasi merintis kegiatan penelitian kelapa kopyor dengan menggandeng Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman (Balit) Palma sejak 2010. IPB dan Balit Palma telah mengembangkan berbagai teknologi budi daya, pengembangan perlindungan tanaman, dan penanganan pascapanen yang terkait dengan kelapa kopyor.
Wujud dari komitmen itu di antaranya didirikannya Pusat Konservasi Plasma Nutfah Kelapa Kopyor Indonesia di Jonggol, Bogor, dan Manado, Sulawesi Utara.
“Saat ini telah ditanam sekitar 3 hektare kelapa kopyor dari berbagai daerah di Indonesia di Jonggol pada akhir 2013. Sepanjang tahun 2014 ini akan dikembangkan lebih lanjut hingga mencapai luasan 5 hektare–6 hektare,” ujar Sodarsono, yang menyandang gelar doktor bidang Agronomi North Carolina State University, Amerika Serikat, ditemui di Jakarta, awal pekan lalu.
Pendirian pusat konservasi tersebut bertujuan untuk mencegah punahnya kelapa unggul asli Indonesia. Sekadar informasi, dari variasi kelapa kopyor di Indonesia, ada tiga varietas yang secara resmi telah dilepas Kementerian Pertanian sebagai varietas lokal. Varietas itu antara lain kelapa genjah cokelat kopyor, kelapa genjah hijau kopyor, dan kelapa genjah kuning kopyor.
 

“Kelapa kopyor tersebut dari segi fisik tidak berbeda dengan kelapa biasa, tapi secara genetik boleh dibilang menyimpang. Penyimpangan itu terjadi pada daging buah yang terlepas dari tempurungnya,” jelas peneliti Balit Palma, Ismail Maskromo, kepada Koran Jakarta, di Jakarta, pekan lalu.
Kelapa kopyor tersebut secara umum dikelompokkan dalam tiga tipe, yaitu genjah, hibrida, dan dalam. Karakteristik tipe genjah memunyai ukuran batang pendek berdiameter relatif kecil.
Pohon tipe ini akan berbuah sekitar umur lima tahunan dengan produksi 12–15 buah per tandan. Persentase buah kopyor sekitar 25–50 persen per tandan (4–6 buah kopyor per tandan).
Sementara itu, kelapa kopyor tipe hibrida punya batang yang relatif lebih besar diameternya dibandingkan kelapa genjah.
Pohon kelapa ini akan berbuah pertama sekitar umur 5–6 tahunan dengan produksi buah antara 10–12 buah per tandan. Persentase buah kopyor sekitar 25–50 persen per tandan (4–5 buah kopyor per tandan).
 Adapun ciri-ciri kelapa kopyor tipe dalam memiliki ukuran batang relatif besar dan kuat.   
Pohon tipe ini akan berbuah pertama sekitar umur delapan tahunan dengan produksi buah antara 5–8 buah per tandan. Persentase buah kopyor sekitar 25 persen per tandan (1–2 buah kopyor per tandan).
 Dari beberapa tipe dan varietas kelapa kopyor yang ada, IPB dan Balit Palma sedang mendaftarkan kelapa dalam kopyor puan kalianda.
“Kelapa kopyor puan kalianda telah diakui dan terdaftar sebagai varietas lokal kelapa kopyor tipe dalam,” ujar Sodarsono.
Pemuliaan Tanaman
Untuk mengembangkan varietas kelapa kopyor yang sudah ada, IPB dan Balit Palma juga terus melakukan pemuliaan tanaman melalui kultur embrio dan true-to-type (T3).
Sodarsono menjelaskan buah kelapa kopyor secara alami sebenarnya tidak dapat ditumbuhkan menjadi bibit karena abnormalitas daging buahnya. Namun, buah kopyor tetap memunyai embrio sigotik yang dapat berkembang menjadi bibit.
Tahapan pemuliaan melalui kultur embrio diawali dengan mengisolasi embrio sigotik di medium steril berisi nutrisi untuk menumbuhkannya hingga berkecambah dan menjadi plantlet (bibit kecil dalam botol). Plantlet yang telah cukup besar, dipindahkan ke media tanah hingga menjadi bibit siap tanam.
Harga bibit kelapa kopyor hasil kultur jaringan tersebut untuk kelapa kopyor tipe dalam berkisar antara 400 ribu–500 ribu rupiah, sedangkan kelapa kopyor tipe genjah berkisar antara 1 juta rupiah per bibit.
“Teknik ini bisa menghasilkan buah kopyor 100 persen per tandan, tetapi tidak bisa menghasilkan buah untuk bibit,” klaim Sodarsono.
Berbeda dengan kultur embrio, tahapan pemuliaan kelapa kopyor T3 diawali dengan menyilangkan secara terkontrol antara induk jantan yang dihasilkan IPB dan Balit Palma, dengan iduk betina kelapa kopyor milik petani. Hasil persialangan dipanen pada umur 11 bulan dan dikecambahkan hingga menjadi bibit. Pada saat bibit berumur 6–8 bulan maka siap ditanam di lapangan.
 “Berbeda dengan bibit hasil kultur embrio, bibit T3 menghasilkan buah kopyor yang berkisar antara 25–50 persen per tandan,” jelas Sodarsono. Sebagai ilustrasi, dengan menanam 10 bibit T3, 10 bibit itu akan berkembang menjadi 10 pohon kelapa kopyor. Saat ini, harga bibit kelapa kopyor T3 untuk kelapa kopyor tipe dalam dan kelapa kopyor tipe genjah berkisar antara 100 ribu rupiah per bibit.
bibit kelapa kopyor

Teknik kultur embrio dan T3 tersebut berbeda dengan proses pembibitan yang dilakukan petani selama ini. Sodarsono menguraikan pembibitan alami ini dilakukan dengan memilih pohon kelapa kopyor yang telah terbukti selalu menghasilkan buah kopyor (25–50 persen per tandan).
 Selanjutnya, pohon kelapa kopyor terpilih dipanen pada umur 11 bulan dan dikecambahkan menjadi bibit. Setelah bibit berumur 6–8 bulan maka sudah siap ditanam di lapangan. Saat ini, harga bibit kelapa kopyor tipe dalam dan kelapa kopyor tipe genjah berkisar antar a 50 ribu rupiah per bibit.
 “Kelapa tersebut bisa menghasilkan buah kopyor 25–100 persen per tandan, dan buah yang tidak kopyor dapat dijadikan sebagai bibit kelapa kopyor alami,” tutup Sodarsono.
Dari teknik pembibitan yang telah dikembangkan tersebut, mereka yang tertarik berbisnis kelapa kopyor bisa memilih keunggulan dan kekurangan varietas dan jenisnya.

Selasa, 13 November 2018

Kelapa Kopyor Pati yang Bernilai Tinggi

Kelapa Kopyor Pati Yang Fenomenal

Kelapa kopyor adalah kelapa mutan asli Indonesia dengan endosperma (daging buah kelapa) abnormal. Endosperma kelapa mutan ini terlepas dari cangkangnya, sehingga dikenal sebagai buah kelapa kopyor. Akan tetapi, abnormalitas endosperma tersebut ternyata mempunyai nilai komersial yang tinggi, karena sangat disukai oleh konsumen.
Kelapa Kopyor merupakan kelapa mutan asli Indonesia dan berbeda fenotipenya dengan kelapa Makapuno yang berasal dari Filipina. Rasanya yang khas menjadikan kelapa kopyor menjadi kelapa mutan eksotis yang banyak diminati masyarakat. Daging buah kelapa kopyor dapat dipasarkan dalam bentuk segar dan siap saji maupun melalui pengolahan terlebih dahulu. Di Kabupaten Pati, pemanfaatan kelapa kopyor lebih ditujukan untuk kebutuhan konsumsi bahan pangan berupa es kopyor, es krim kopyor, koktil, dan bahan campuran kue.


Asal usul Kelapa Kopyor di Pati Bagaimana?

Kelapa Genjah Kopyor Pati telah diketahui keberadaannya dan berkembang sejak lebih dari 50 tahun yang lalu di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Hal ini dibuktikan dengan masih adanya beberapa tanaman yang berumur lebih dari 40 tahun. Kemungkinan merupakan pengembangan dari tanaman kopyor hasil mutasi alami yang terjadi di daerah Pati atau bisa saja berasal dari luar daerah Pati. Sejak tahun 1960an tanaman kelapa kopyor sudah ada di daerah Pati dan terus dikembangkan di pekarangan rumah penduduk setempat, dengan menggunakan benih/ bibit alami dari buah normal tanaman kelapa Genjah yang diketahui menghasilkan buah kopyor. Dengan jumlah tanaman yang sangat banyak dan menyebar luas di Kabupaten ini, diduga tanaman Kelapa Genjah Kopyor tersebut merupakan tanaman asli daerah Pati.

Kelapa Genjah Kopyor Pati


Kelapa kopyor merupakan kelapa eksotis yang bernilai ekonomi tinggi. Keunggulan populasi kelapa kopyor asal Pati adalah cepat berbuah (3-4 tahun) sehingga dikategorikan sebagai kelapa kopyor Genjah dan persentase menghasilkan buah kopyor pertandan yang tinggi mencapai 50%. Melalui kerjasama antara Balai Penelitian Tanaman Palma (BalitPalma) Manado dengan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Pati, pada tahun 2007 tanaman Kelapa Genjah kopyor Pati telah didaftarkan di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman (PPVT) sebagai calon varietas unggul lokal. Setelah melalui pengamatan selama 3 tahun berturut-turut oleh peneliti BalitPalma, pada tahun 2010 sebanyak tiga varietas kelapa Genjah Kopyor Pati dilepas sebagai varietas unggul lokal dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian.
1. No: 3995/KPTR/SR/120/12/2010, tentang Pelepasan Kelapa Kopyor Genjah Coklat Pati

2. No: 3996/KPTR/SR/120/12/2010, tentang Pelepasan Kelapa Kopyor Genjah Hijau Pati
3. No: 3997/KPTR/SR/120/12/2010, tentang Pelepasan Kelapa Kopyor Genjah Coklat Pati
Saat ini kelapa Genjah kopyor Pati telah berkembang di kabupaten lain di   Jawa Tengah seperti di Kabupaten Jepara, Rembang, Sukoharjo, Magelang dan Jogjakarta. Selain itu telah menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Daya adaptasi dan toleransi Kelapa Genjah Kopyor cukup bagus. Secara umum penampilan morfologi tanaman Kelapa Genjah Kopyor Pati yang ditanam di luar wilayah Pati tersebut, tidak berbeda dengan tanaman asalnya.
kelapa kopyor

Pertanaman kelapa kopyor

Tanaman kelapa kopyor di Kabupaten Pati tersebar di wilayah Pati Utara dengan sentranya di Kecamatan Dukuhseti, Tayu, Margoyoso, Cluwak, Gunungwungkal dan Trangkil. Luas areal tanam total 767,65 Ha dengan luas areal tanaman menghasilkan sebanyak 303,30 Ha, sedangkan potensi lahan masih sangat memungkinkan untuk pengembangan selanjutnya.
kelapa kopyor

Perbanyakan Kelapa Kopyor

Perbanyakan kelapa kopyor dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, secara konvensional, menggunakan benih yang berasal dari tandan yang menghasilkan buah kopyor. Tanaman yang di perbanyak dengan cara ini apabila telah berproduksi dapat menghasilkan  1 – 4 butir/ tandan, tergantung potensi berbuah kopyor pohon induknya. Kedua, secara in vitro, yaitu menumbuhkan embrio dari buah kopyor pada media tumbuh buatan dalam kondisi aseptik di laboratorium. Tanaman yang dihasilkan dengan cara ini akan menghasilkan tanaman dengan potensi 100% buah kopyor. Tanaman kelapa kopyor yang diperbanyak dengan cara ini telah ditanam di Ciomas (Bogor), Riau dan Kalimantan Timur. (Sumber: Buku Monograf Kelapa Kopyor, Balitka 2007).
Pengembangan Kelapa Kopyor di Kabupaten Pati telah dilakukan oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Pati melalui kegiatan-kegiatan pengembangan dan optimasi lahan di lokasi-lokasi yang berpotensi. Beberapa lembaga pemerintah telah melakukan kajian dan penelitian mulai tahun 2000 dari BalitPalma Manado, IPB Bogor, Balitbang Provinsi Jawa Tengah, UMK Kudus, PPKS Medan dan beberapa Perguruan tinggi lain. Pada tahun ini Pemerintah Daerah Kabupaten Pati telah membangun Kebun Bibit Kelapa Kopyor di Desa Waturoyo Kecamatan Margoyoso, dengan maksud untuk membuat kebun khusus Kelapa kopyor sebagai kebun yang khusus untuk pengembangan dan pelestarian Kelapa Kopyor sebagai komoditas perkebunan unggulan kabupaten Pati baik dengan bibit lokal maupun bibit hasil kultur embrio, serta sebagai kebun contoh dan tempat penelitian komoditas kelapa kopyor Kabupaten Pati.


Alasan Menanam Kelapa Kopyor


Budidaya kelapa kopyor perlahan tapi pasti mulai booming dan kini mulai dilirik dan dikembangkan masyarakat luas. Berbagai media massa baik cetak maupun elektronik meliput tentang keistimewaan pohon kelapa kopyor. Pertanyaanya, apa alasan utama mengapa masyarakat mulai tertarik membudidayakan kelapa kopyor?

Nilai Ekonomis yang tinggi


Seperti diketahui bersama, harga kelapa kopyor di pasaran mencapai 20 ribu sampai 30 ribu per biji. Bahkan, di daerah tertentu (daerah Jakarta dan sekitarnya) kadangkala mencapai lima puluh ribuan per batang. Dan yang pasti, tentu saja harganya lebih mahal daripada kelapa biasa. Harga kelapa biasa biasanya hanya berkisar lima ribu sampai sepuluh ribu rupiah.
Usut punya usut rupanya kelapa kopyor memang menjadi menu utama yang mahal di beberapa restoran mewah. Di samping itu, kelapa kopyor juga menjadi bahan baku utama dalam pembuatan es krim yang laris di pasaran.

Minim Pesaing

Belum banyak yang membudidayakannya alias minim pesaing. Budidaya kelapa kopyor selama ini tersentra di daerah Pati, Jogja, Bogor, Jepara, Bogor dan Magelang. Untuk daerah lainnya masih jarang. Bahkan, di Pati sendiri terpusat di kawasan Tayu dan sekitarnya. itu artinya masih ada peluang yang cukup prospek untuk kedepannya.

Tergolong Genjah dan Cepat Berbuah

bibit kelapa kopyor

Kelapa kopyor termasuk jenis tanaman genjah (pendek) sehingga cepat berbuah. Menurut penelitian Balikpalma Manado di Pati tahun 2007, kelapa genjah kopyor Pati dengan warna hijau, coklat dan kuning (gading) cepat berbuah di usia empat tahunan. Maka tidak heran bila di tahun 2010, Menteri Pertanian waktu itu memberikan sertifikat (pengakuan)  bahwa Kabupaten Pati sebagai sentra penghasil kelapa kopyor dan pemilik sah varietas kelapa unggul nusantara.
   

Mudah dibudidayakan. 

Budidaya kelapa kopyor bisa dibudidayakan di tempat manapun, selama curah hujannya cukup dan kadar kelembaban udaranya terjaga. Memang daerah dataran rendah lebih disukai dan mudah untuk budidaya kelapa, termasuk kelapa kopyor ini. Namun, daerah datarang tinggi juga banyak yang berhasil membudidayakan kelapa kopyor.

Walapun demikin, anda sebagai petani pemula yang ingin membudidayakan kelapa kopyor perlu memperhatikan kriteri tertentu. Utamanya selain mempersiapkan ilmu budidaya, juga memilih bibit kelapa kopyor yang baik dan berkualitas, juga diperlukan sedikit kesabaran dan ketelatenan. Mengingat budidaya kelapa kopyor dapat dipanen setelah umur empat sampai lima tahun. Namun, tidak ada salahnya anda mencobanya, sebagai salah satu investasi jangka menengah yang cukup menjanjikan.

Cara Mudah Menjadi Kaya Dengan Budidaya Kelapa Kopyor

Cepat Kaya dengan Budidaya Kelapa Kopyor Kelapa Kopyor bisa disebut dengan “ emas hijau ” lantaran harga kelapa kopyor bisa lebih ...